orang sombong

Aku Ingin Menjadi Orang Sombong

Tidak mengenal syukur akan membentuk seseorang menjadi  manusia yang sombong. Betapa tidak? Karena dia merasa apa yang diraih saat ini adalah karena dirinya sendiri. Orang seperti ini biasanya tidak menganggap kehadiran orang lain dan tentu saja keberadaan Tuhan yang selalu mengiringi kehidupannya.

Seseorang yang sombong selalu merasa pencapaiannya hanya karena kerja keras belaka. Dia lupa, ridha Tuhan adalah hal yang sangat penting sehingga kita bisa mencapai kesuksesan. Itulah sebabnya mengapa orang selalu dianjurkan melakukan satu hal : bekerja sambil berdoa.

Sikap sombong adalah salah satu sikap tercela. Kapan dan dimanapun kita berada, kesombongan tidak akan pernah diterima dengan baik. Sikap sombong menunjukkan kalau seseorang selalu merasa lebih dari orang lain. Yang dimaksud dalam kata-kata ini, tentu saja konotasi negatif. Entah itu lebih hebat, lebih cantik, lebih pintar, pokoknya ada berjuta lebih lainnya. Xemuanya mengacu pada satu hal, menganggap dirinya yang berada di puncak dunia sebagai manusia terbaik dan terhebat yang diciptakan Tuhan. Orang seperti  ini akan mudah sekali tersungkur ke jurang kebinasaan jika mengalami kegagalan.

Berapa banyak orang di sekitar kita yang menyombongkan diri karena ilmunya atau karena kelebihan fisiknya. Padahal, semuanya tidak akan memberi manfaat apa-apa jika tidak jika tidak dimanfaatkan di jalan kebaikan. Apa artinya ilmu yang tinggi jika hanya disimpan untuk diri sendiri? Bagaimana mungkin ilmu itu bisa dimanfaatkan jika hanya digunakan sebagai perangkat kesombongan? Ilmu yang diperoleh dengan menimba ilmu yang panjang dan mahal menjadi hampa jika hanya berupa gelar untuk direkatkan di nama belaka, sekadar memenuhi standar dan gengsi. Padahal, apa hebatnya ilmu dan gelar jika hanya untuk dipamerkan belaka? Pada dasarnya, Tuhan adalah pemilik segala ilmu. Dan bukan hanya kita yang mempunyai ilmu sejenis.

Anda tentu tahu, tidak terhitung jumlah dokter, astronom, fisikawan, penyair, atau matematikawan yang ada di muka bumi ini. Lalu, apa yang membedakan satu dengan lainnya? Tentu saja dengan membagikan ilmunya demi sebuah sumbangsih murni untuk kebaikan dunia.

Baca juga : Pengertian Istidraj

Siapa yang akan mengenal Tsai Lun jika penemuannya tentang kertas hanya disimpan sendiri dan tidak pernah dimanfaatkan sama sekali? Mungkin kita akan mengenal kertas yang terbuat dari papirus saja. Begitu juga jika Louis Pasteur tidak pernah mempublikasikan penemuannya tentang pasteurisasi atau Pencegahan Rabies. Apa untungnya jika keduanya hanya dirinci dalam dokumen pribadi yang hanya diketaui segenlir orang?

Persamaan nama-nama diatas adalah, mereka mencapai kemahsyuran setelah membagi ilmunya kepada dunia. Memang, nama yang terkenal itu tidak serta merta mereka nikmati, tetapi mereka mengajarkan hal yang sama, berbagi itu memberikan banyak manfaat.

Jadi, untuk apa memilih menjadi orang yang sombong dan memandang sebelah mata pada orang lain? Pada akhirnya, semua kejayaan itu akan ada akhirnya. Kesombongan akan memberi nama yang beraroma busuk ketika dibicarakan. Bagi orang-orang yang relijius tentu percaya ilmu yang dibagi dan bermanfaat bagi orang lain akan mendatangkan pahala. Kesombongan dan sikap pelit akan menjadi seperti debu yang diterbangkan angin. Tidak menghasilkan apa-apa, bahkan pada akhirnya tidak bisa ditangkap oleh mata dengan jelas.

 

Diambil dari buku : The Miracle of Syukur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *