kekosongan akal

Kekosongan Akal

Inspirasi Other
Kekosongan Akal

Akal merupakan mutiara yang hanya dimiliki oleh manusia. Manusia yang tidak memfungsikan akal pikirannya untuk mengenal Rabb-nya, maka ia tidak lain seperti halnya hewan.

Disinilah Allah mengkategorikan kekosongan akal itu sebagai sifat hewan. Sebab hewan merupakan makhluk ciptaan-Nya yang tidak memiliki kesiapan untuk menggunakan akal pikirannya. Karena itu, Allah SWT akan menyamakan manusia dengan hewan jika mereka tidak mampu mengguna akal pikirannya untuk menerima pengetahuan-pengetahuan yang berguna. Inilah rahasianya, ketika ‘Umar bin Al-Khaththab r.a mengukur keutamaan antara manusia dengan yang lainnya, beliau berkata, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akalnya.”

Apabila seseorang hidup dalam kekosongan akal pikirannya, berarti ia telah menentukan hidupnya sendirinya dalam lubang kehancuran, sekaligus menentukan akhiratnya dalam keadaan celaka. Ini bisa dibuktikan dengan adanya ratapan para penghuni neraka, yang mengakui kekosongan akal mereka selama hidup didunia. Allah SWT berfirman,

Baca juga : Bersyukurlah, Engkau Akan Bahagia

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentu kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (QS. Al-Mulk: 10)

Inilah akhir dari orang-orang yang memiliki kekosongan akal. Adapun orang yang mengisi akalnya dengan sesuatu yang bermanfaat baik yang menyangkut masalah dunia maupun akhirat maka dialah orang-orang yang benar-benar beruntung. Hal itu karena orang tersebut mau menggunakan akalnya sesuai dengan hakikat penciptaan akal itu sendiri, yaitu tadabbur (memperhatikan) ayat-ayat Al-Qur’an, dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, serta tafakkur (memikirkan) makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT. Seperti firman Allah ini,

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar dilaut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan didalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Yang wajib diketahui adalah bahwa akal mempunyai keterbatasan, akal wajib untuk tunduk pada wahyu. Akal diperintahkan untuk berfikir, mentadabburkan ayat-ayat Allah, dan memikirkan tentang makhluk-makhluk Allah. Tidak boleh sekali-kali berfikir tentang Dzat Allah, karena akal tidak mampu, tidak sampai, dan hal itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Beliau SAW bersabda,

“Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan berpikir tentang Dzat Allah Azza wa Jalla”

Diantara pikiran-pikiran buruk yang lain yaitu:

  1. Memikirkan sesuatu yang sulit dipahami dan tidak bermanfaat, bahkan cenderung berbahaya
  2. Memikirkan berbagai macam displin ilmu yang tidak menambah kesempurnaan atau kemuliaan bagi jiwa meskipun telah menguasainya atau memahaminya secara benar.
  3. Memikirkan keinginan-keinginan syahwat yang terkait dengan kelezatan duniawi.
  4. Memikirkan sesuatu yang belum ada.
  5. Memikirkan masalah-masalah orang lain.
  6. Memikirkan berbagai macam strategi dan siasat untuk mencapai tujuan.
  7. Memikirkan macam-macam sya’ir dan polanya serta aneka nilai seninya.
  8. Memikirkan asumsi-asumsi akal yang tidak ada wujudnya di alam nyata.

Berdasarkan uraian diatas, diketahui bahwa semua bentuk pemikiran tersebut memiliki mudharat yang lebih besar dari manfaatnya.

Diambil dari buku : Waktumu, Dihabiskan Untuk Apa???

Penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *