hati-yang-rindu

Hati yang Rindu dalam Dekapan Sepi

Inspirasi Other
Hati yang Rindu dalam Dekapan Sepi

 

Seyogyanya manusia adalah makhluk sosial yang mana para ahli sosiologi berkata bahwa manusia sudah dikodratkan tik dapat hidup tanpa adanya orang lain. bahwa setiap manusia haruslah bersinergi bahu membahu dalam berbagai urusan, saling bekerjasama, saling membutuhkan dan saling mengisi satu sama lain. Bahwa esensi dari kehidupan ini adalah tentang menyadari siapa dan apa peranan kita dalam masyarakat.

“Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi”. Maka para sahabat bertanya, “Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?”. Rasulullah menjawab, “Mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya”. (Bukhari dan Ahmad).

“…Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa…” (QS. Almaidah : 2)

Jelaslah, bahwa kuasa dan daya kita memiliki batas yang tak bisa kita lampaui atas diri kita sendiri. Seperti halnya kunci yang tak kan berguna tanpa adanya gembok. Serupa pula hal nya dengan bunga tanpa adanya kumbang. Semua saling terkait dan saling mengisi.

Setinggi apapun penat dan lelah yang kita rasakan dalam hiruk pikuknya kehidupan dan padatnya rutinitas interaksi kita dengan manusia lainnya, yang tak jarang memunculkan pergesakan dan juga permasalahan, kita tetap lah membutuhkan orang lain. Meskipun terkadang timbul rasa ingin sendiri, punya waktu ‘me time’, jauh dari keramaian, semua itu tak lantas membuat kita ingin hidup dalam kesendirian selamanya. Karena pada dasarnya kita tak bisa dan tak ingin sendiri. Karena pada hakikatnya tak ada satupun dari kita yang ingin berada dalam kesepian. Betul?

Karena apa yang kita rasakan ketika kita hanya sendiri, tak memiliki teman, dan tak memiliki orang lain di sisi kita sungguh sangat tidak menyenangkan. Merasa tidak ada satu orang pun yang mengerti dan memahami kita sungguh akan sangat membuat kita sedih. Dan hampir tak ada satupun dari kita yang ingin merasakannya bukan?

Tapi terkadang kita lupa. Terkadang kita hanya fokus pada diri kita, kita, dan kita lagi. Kita tak sadar bahwa di luar sana, diluar diri kita ada orang-orang yang juga berharap hal yang sama, berharap tak merasakan rasanya sepi dan sendiri, namun takdir telah menghampiri mereka. Mereka adalah anak yatim.

Kata ‘Yatim’ berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu”  dab mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih. Atau bermakana : sendiri. Gelar yang mereka sandang representative dari apa yang mereka rasakan. Sedihnya kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sosok ayah yang tak lagi berada disisi mereka. Yang tak lagi menjadi pelindung dalam hidup mereka. Yang tak lagi menjadi tempat bergelayut manja dan berkata mesra. Disaat itu lah kebahagian dan keceriaan mereka sirna. Hilang berganti sedih dan kesepian bagai awan mendung yang menyimpan hujan.

Baca juga : Remaja Zaman Old Vs Remaja Zaman Now

Disana, mungkin disalah satu sudut kota, diantara gedung-gedung pencakar langit yang kian berhimpit, di bawah atap lusuh yang seringkali bocor menampiaskan tetesan hujan, di balik dinding lusuh yang tak lagi jelas warna catnya. Atau mungkin di pemukiman padat penduduk, di kelilingi tumpukan tempelan triplek dan kardus yang mereka sebut rumah, atau di pasar-pasar tradisional. Mereka hidup sendiri dalam sepi, berusaha berjuang menghidupi diri, mengumpulkan rezeki untuk melanjutkan mimpi.

Masihkah kita mengeluh akan hidup? Sedang mereka tak jarang tersenyum walau sekedar untuk meyakinkan diri bahwa esok akan datang membawa setitik harapan indah. Apa arti sepi yang kita rasakan dibanding mereka? Adakah sama? Namun mereka lebih pandai bersyukur atas nikmat yang mereka rasakan. Mereka mampu memaknai setiap rezeki yang mereka nikmati. Dan mereka lebih mampu menghargai orang-orang yang mereka cintai. Karena mereka tau betapa sakitnya kehilangan dan betapa sedihnya ditinggalkan.

Dan Allah kemudian mengangkat derajat mereka. Allah jadikan mereka alasan  bagi kita untuk bersama menuju syurga.

 “Dan mereka bertanya kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan anak-anak yatim itu amat baik bagimu.” (QS Al Baqarah:220)

“Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.”

Pernahkah kita mencoba merasakan sepi yang mereka rasakan? Dikala malam yang dingin menyelimuti tubuh mungil mereka, mereka rindu kehangatan. Rindu saat-saat dimana Ayah dan Ibunya mengecup mesra kening mereka, menghantarkan ke peraduan mimpi indah tak berujung.

Mereka rindu…

Rindu senyum ibu yang menanti mereka dibalik pintu sepulang sekolah. Mereka rindu menanti kepulangan ayah yang selalu membawa buah tangan untuk mereka. Mereka rindu teriakan bangga dari Ayah ketika mereka berhasil meraih juara. Mereka rindu dinaikkan kepundak Ayah, berkeliling sambil tertawa. Mereka rindu usapan kepala dari Ayah ketika mereka sedih dan kecewa. Mereka rindu. Rinduu… Seperti rindunya malam akan rembulan.

Mereka butuh tempat untuk berbagi. Mereka butuh tempat untuk bersandar. Melepas sedikit rasa rindu yang telah lama membuncah. Adakah kita disisi nya? Sedikit saja menghadirkan sosok Ayah dan ibu yang mereka rindukan. Mereka hanya butuh kehadiran kita untuk mengisi kekosongan jiwanya. Pernahkah kita?

Jika belum, datanglah, hadirlah walau untuk sebentar. Tengoklah mereka, saudara kita, anak kita, masa depan bangsa kita. Jangan biarkan mereka terus merasa dalam sedih dan kesendirian. Karena mereka butuh kita. Karena kita pun membutuhkan mereka…

Lembutkan lah hati kita. Tatap wajahnya, rasanyakan hatinya. Seperti pesan mulia dari orang yang paling mulia yang juga pernah merasakan hal yang sama dengan mereka.

“Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)

“Orang yang menanggung (mengasuh) anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik (perawi hadits) mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim)

 

 

 

 

 

 

 

 

Author : Fitri Atikah Rahmah, S.E
Manajer Rumah Yatim Ihya Ul Ummah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *