umayyah

Wanita Pelopor dalam Dunia Perawatan – Umayyah binti Qais

Inspirasi Other

Dia berasal dari suku Ghiffar, keturunan dari Abu Dzar al-Ghiffari. Cahaya iman menyinari hatinya pada saat usianya masih belia.

Di usianya yang baru 14 tahun, Umayyah datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam—setelah menempuh perjalanan jauh—untuk berbaiat di hadapan beliau dan memberikan segala baktinya demi perjuangan dakwah beliau.

Pada saat Perang Khaibar, dia keluar (ikut perang) sebagai juru rawat bersama para wanita Ghiffar yang lain dan usianya pada saat itu belum memasuki usia menstruasi (balig). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bertemu dengannya di tengah perjalanan, beliau menumpangkan Umayyah di atas kendaraannya dan menashatinya untuk bekerja sebaik-baiknya.

Setelah perang usai, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memberikan penghargaan kepada Umayyah dengan menyematkan sebuah kalung di lehernya dan kalung tersebut tidak ingin dilepaskan dari lehernya sampai dikubur bersamanya sesuai dengan wasiatnya

Kalau kita melihat para juara yang sangat bangga karena mendapatkan penghargaan kalung di lehernya, demikian pula halnya dengan Umayyah yang mendapat penghargaan kalung dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Kalung tersebut akan menjadi saksi bagi Umayyah atas jasa dan perjuangannya karena setiap individu dari kita akan dibangkitkan pada hari Kebangkitan nanti sesuai kondisinya saat meninggal.

Demikianlah Umayyah yang memenuhi panggilan Allah SWT dan baginya apa yang Allah janjikan dalam firman-Nya,

Baca juga : Sosok Unik Prajurit Berkuda – Zubair bin Awwam

“Sesungguhnya, mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan-Nya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30)

Dengan judul “Para Syuhada Wanita Khaibar dan Kisah Wanita dari suku Ghiffar”, Ibnu Hisyam menuturkan kisah perjalanan Umayyah menuju Khaibar (dari Ibnu Ishaq). Ibnu Ishaq berkata, “Sulaiman bin Sahim berkata padaku dari Umayyah bin Abish-Shult dari seorang wanita Bani Ghiffar yang namanya pernah disebutkan padaku. Dia (wanita tersebut) berkata, ‘Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dengan beberapa wanita Bani Ghiffa, lalu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami ingin keluar bersamamu—ke Khaibar–, kami ingin mengobati mereka yang luka dan menolong kaum muslimin semampu lami.’ Kemudian beliau  menjawab, ‘(Berangkatlah) atas berkah Allah.’”

Umayyah berkata, “Berangkatlah kami bersama beliau. Saya saat itu seorang gadis kecil sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menaikkan (membonceng) saya di atas kendaraannya.”

Lebih lanjut Umayyah berkata, “Demi Allah, pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam turun di suatu pagi dari kendaraannya dan menambatkan kudanya, tiba-tiba menetes darah dariku di atas pelana kudanya. Itulah haid pertama saya di atas kuda beliau. Saya benar-benar malu saat itu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam melihat apa yang terjadi denganmu?  Jangan-jangan kamu sedang haid?’ Umayyah menjawab, ‘Benar.’ Beliau berkata,’Kalau begitu, bersihkanlah dirimu, lalu ambillah setimba air, campurkan garam dalam air tersebut, dan cucilah pelana yang terkena darah tadi dengan air tersebut, kemudian kembalilah ke kendaraanmu (kudamu).’ “

Umayyah berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam telah berhasil menaklukkan Khaibar, beliau membagikan sebagian harta rampasan kepada kami. Kemudian beliau menyematkan kalung yang sekarang (pada saat itu) ada pada leherku. Demi Allah, saya tidak akan mencopot kalung itu untuk selamanya.” Maka dengan kalung tersebut, Umayyah dimakamkan sebagaimana wasiatnya.

Sejak peristiwa itu (haidnya pertama kali), Umayyah selalu membersihkan haidnya dengan air yang dibubuhi garam, bahkan di hari wafatnya, dia mewasiatkan untuk dimandikan dengan air yang bergaram.

Dari sini, hendaknya para wanita muslimah meneladani jiwa kepahlawanan Umayyah yang mengikhlaskan dirinya untuk terjun ke medan laga mengobati mereka yang luka dan menolong kaum muslimin sekuat tenaga pada saat usianya masih sangat belia.

Dari sini, kita juga bias mengambil pelajaran bagaimana seorang pemimpin Islam menghargai jasa para pejuang, baik secara moril maupun materi.

“Ketika petunjuk telah menempati hati maka seluruh badan pun ikut bersemangat dalam beribadah,” demikian kata penyair.

 

Sumber tulisan : Perempuan-Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam (Muhammad Ibrahim Saliim) dengan sedikit perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *