cinta masjid

Kini Saatnya Kembali ke Masjid

Inspirasi Other

Ini sebuah pengalaman yang bisa jadi dialami ikhwah sekalian dibelahan bumi negeri ini. Dalam sebuah safari dakwah, bersama rombongan kecil kami (penulis, red) hendak melaksanakan shalat zuhur berjamaah. Dicarilah masjid yang tidak terlalu jauh dari lokasi parkir mobil. Dan masjid yang cukup besar itu pun berada di samping jalan. Tapi, masyaAllah, meski waktu zuhur sudah masuk, tidak ada suara azan sama sekali. Dan yang mengagetkan lagi, masjid tersebut dalam keadaan terkunci!

Kami tercengang melihat realitas ini. Tidakkah mereka menyadari bahwa salah satu ukuran keimanan seseorang adalah dari upayanya memakmurkan masjid. Keberkahan sebuah negeri pun diantaranya karena penduduknya mau memakmurkan rumah Allah SWT. Bahkan kemurkaan-Nya bisa ditahan karena ada hamba-Nya yang gemar memakmurkan masjid, ummaara baytii. Lalu kenapa rumah-Nya yang agung ini dibiarkan tertutup. Tidakkah ingin kampung ini berkah, terhindar dari berbagai musibah, ujian, dan cobaan? Kenapa harus dihalangi orang yang mau menghadap kepada-Nya. Kami terus membatin sambal berujar istighfar.

Demikianlah barangkali realitas yang tidak bisa ditutupi dari masyarakat di negeri yang kita cintai ini. Meski demikian, tatapan optimis tetaplah ada. Karena masjid kita pun di waktu-waktu tertentu bisa dikatakan makmur. Seperti ketika shalat jumat, pengajian akbar, bulan Ramadhan, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha, dan lain-lain.

Khusus bulan Ramadhan, keberadaan masjid memang lebih hidup dari bulan-bulan lain. Terkadang dari kenyataan ini kita semua selalu merindukan bulan Ramadhan. Betapa banyak orang yang berdatangan dari berbagai penjuru untuk merasakan nikmat shalat malam berjamaah, tarawih, i’tikaf, membaca Al-Qur’an dan berdoa bersama-sama, buka puasa dan sahur bersama-sama. Kenikmatan seperti ini tidak akan pernah didapat di hari-hari biasa.

Bila saja masjid merupakan makhluk yang dapat bicara, mungkin masjid akan meminta bulan Ramadhan sepanjang tahun. Karena pada awal sampai di penghujung bulan Ramadhan akan banyak yang berdiam diri di masjid dengan melakukan berbagai aktivitas ibadah. Terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, masjid akan penuh dengan umat yang ingin meraih malam mulia, malam seribu bulan, malam Lailatul Qadr. Pada malam-malam itu, berates-ratus umat menginap di masjid. Bangun malam untuk melaksanakan shalat malam berjamaah, mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an oleh imam yang menyentuh nurani terdalam. Isak tangis jamaah memecah keheningan malam. Tidak ada kenikmatan terbesar selain itu, kenikmatan bertemu Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya yang lain. Mengakui semua dosa dan mohon ampunan sebesar-besarnya kepada Allah SWT.

Baca juga : Wanita Pelopor dalam Dunia Perawatan – Umayyah binti Qais

Hanya sayang, keramaian itu baru ada di bulan Ramadhan. Setelah bulan Ramadhan berakhir, masjid kembali sepi. Walau ada kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ceramah yang diadakan untuk menginap di masjid (mabit) tetap rasanya tidak seindah bila malam bulan Ramadhan.

Agar masjid itu penuh terus sepanjang tahun seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan, bagaimana caranya agar kita umat Islam bisa kembali meramaikan masjid? Bagaimana caranya agar masjid tidak hanya diramaikan oleh orang-orangtua saja? Bagaimana agar kerinduan umat Islam akan masjid bergelora seperti zaman Rasulullah SAW?

Rasulullah SAW sangat mencintai masjid, dan karena cintanya akan masjid, beliau SAW mendirikan rumah di samping masjid. Tapi sekarang dengan berbagai aktivitas kehidupan umat Islam semakin jauh dengan masjid. Jangankan untuk menghabiskan waktu di masjid, waktu untuk diri sendiri pun kurang.

Masjid itu kunci keberkahan. Baaraknaa haulahu. Kalau seorang suami pergi ke masjid, maka istri diberkahi. Kalau ia seorang ayah, lalu kakinya diayunkan ke masjid maka anaknya diberkahi. Kalau orang yang berangkat ke masjid itu pedagang, insyaAllah perdagangannya akan diberkahi. Begitu juga jika pemimpin di negeri ini mau ke masjid utamanya di waktu subuh, pastilah penduduknya akan diberkahi.

Telah lama masjid-masjid di negeri ini bersedih. Ditinggalkan dari lautan peran yang belum maksimal. Mari saatnya kembali ke masjid. Bukan sekadar berbondong-bondong menuju masjid. Tapi juga menghidupkan kembali hakikat masjid. Bukan sekadar tempat bersujud menempelkan dahi, kedua telapak tangan, lutut dan juga kaki. Tapi sekaligus menjadi tempat bermuaranya semua amalan yang bisa mengundang lebih banyak dan dekat lagi dengan berkah dan ridha-Nya. Biarlah kening ini tunduk dan patuh dengan segala ketentuan-Nya, di setiap aktivitas dan semua amal kita. Bila jenuh melanda, bila iman kian menipis dan debu-debu kehidupan kian menempel biarlah sujud yang meluruhkannya. Saat luruh itulah, kita dipastikan akan lebih segar, lebih cerah, dan lebih bersemangat lagi.

Masjid, langit, bumi, beserta isinya milik Allah SWT. Tetapi, Allah SWT menyebut secara khusus bahwa masjid adalah kepunyaan-Nya. Masjid merupakan rumah pertama yang dibangun di muka bumi. “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn [72]: 18)

Jadi, mengapa masjid harus ditutup dan digembok. Ia adalah milik Allah SWT dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Ramainya jamaah, barometer umum makmurnya sebuah masjid. Setiap kita hendaknya memulai dalam  mengembalikan fungsi masjid dengan menggalakkan minimal kegiatan shalat jamaah lima waktu.

Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Dan tidaklah seorang laki-laki berwudhu kemudian ia membaikkan wudhunya lalu menuju ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah menulis setiap langkah yang ia langkahkan satu kebaikan untuknya dan Allah meninggikannya satu derajat serta menghapuskan satu keburukannya karenanya. Dan sesungguhnya kita telah menyaksikan bahwa tidaklah meninggalkan (shalat berjamaah) kecuali orang munafik yang tampak jelas kemunafikannya. Dan sesungguhnya dahulu (sampai terjadi) ada seorang laki-laki yang dipapah oleh dua orang kemudian ia berdirikan di dalam shaf (agar bisa shalat berjamaah).” (Asri al-Ibnu ats-Tsani)

 

Sumber tulisan : Cinta Masjid, Berkah Negeriku (Muhammad Arifin Ilham – Muhammad Muslih Aziz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *