Sabtu , 31 Oktober 2020
shalat dhuha
Semakin Berkibar Berkat Jadikan Shalat Dhuha sebagai Absen Karyawan Agus Pramono adalah pemilik merek Ayam Bakar Mas Mono. Ia memiliki

Semakin Berkibar Berkat Jadikan Shalat Dhuha sebagai Absen Karyawan

Semakin Berkibar Berkat Jadikan Shalat Dhuha sebagai Absen Karyawan

 

Agus Pramono adalah pemilik merek Ayam Bakar Mas Mono. Ia memiliki cara tersendiri untuk membentuk karakter para pegawainya. Dan, pendekatan spiritual menjadi andalannya dalam menjalankan program pembentukan karakter tersebut. Program ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari system manajemen jaringan Ayam Bakar Mas Mono.

Barangkali, mengabsen karyawan dengan finger print, id card, atau scan wajah adalah hal biasa yang lazim kita temui. Lalu, bagaimana jadinya jika shalat Dhuha dijadikan absen karyawan? Mungkin, pengalaman sukses Mas Mono dalam menjadikan shalat Dhuha sebagai absen karyawan ini patut menjadi contoh.

Mengelola karyawan dalam jumlah besar dengan berbagai latar belakang, tentu tidak mudah. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain. Mereka juga punya keinginan yang tidak sama satu sama lain. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa jadi mereka sangat rawan untuk berkonflik dan ini bisa sangat mengganggu proses kerja. Jika ini terjadi, maka suasana kerja menjadi sangat tidak sehat. Konflik yang semakin parah justru bisa mengancam kelangsungan bisnis. Banyak sekali contoh yang menggambarkan matinya sebuah usaha akibat konflik yang terjadi antar karyawan. Karena itulah, keselarasan atau harmonisasi interaksi antar karyawan dalam sebuah lembaga usaha memainkan peran yang sangat penting.

Namun demikian, keselarasan interaksi saja tidaklah cukup untuk menjadikan usaha menjadi lebih maju. Para karyawan juga perlu dibangkitkan motivasinya untuk terus semangat bekerja. Sulitnya mendorong motivasi kerja para karyawan dengan latar belakang yang berbeda-beda, kerap menjadi tantangan tersendiri. Sehingga, tidak sedikit pengusaha menemui kegagalan dalam meningkatkan motivasi kerja para pegawainya.

Dengan sekitar 600 karyawan, Agus Pramono atau yang akrab dipanggil Mas Mono ini, tidak perlu program yang rumit untuk mendorong motivasi karyawannya yang mendukung bisnisnya. Ia cukup menjadikan  shalat Dhuha sebagai alat untuk mengabsen para pegawainya. Aturannya sederhana, mereka yang tidak shalat Dhuha, dianggap tidak bekerja.

Mas Mono tidak perlu membuat sistem absen secanggih finger print untuk mengukur kinerja para pegawainya. Ia juga tidak memerlukan alat bantu semacam balance score card untuk menjadikan para karyawannya bersemangat untuk mempersembahkan kinerja terbaik. Baginya, shalat Dhuha sudah cukup sebagai pengukurnya.

Absen seperti ini tentu saja tidak hanya memberi nilai positif bagi pengusaha, tetapi juga bagi karyawan yang bersangkutan. Pembiasaan untuk menjalankan shalat Dhuha menjadikan karyawannya memiliki disiplin tinggi saat bekerja. Mereka juga mendapatkan ketenangan kerja dan spirit kuat dengan rutin menjalankan ibadah tersebut.

Baca juga : Dahsyatnya Waktu Subuh

Sejauh ini, absen melalui shalat Dhuha ini terasa efektif untuk membangkitkan motivasi kerja dan membentuk karakter positif karyawan Ayam Bakar Mas Mono. Memang, diakui Mas Mono, tidak semua karyawannya berasal dari latar belakang yang baik. Dari sekian banyak karyawannya, ada yang dulunya pencopet dan ada juga yang menjadi perampok taksi, dan sebagian lainnya berlatar belakang orang baik-baik.

Bagi Mas Mono, hal itu bukanlah usaha mudah untuk membuat mereka yang mulanya residivis menjadi insaf dan mau bekerja. Perlu dorongan yang sangat kuat untuk menjadikan mereka mentransformasi diri dari “dunia gelap” ke dunia yang “terang”. Setelah mereka mau insaf, tahap berikutnya adalah menjadikan batin mereka terisi dengan keimanan dan ketakwaan.

Shalat Dhuha memang menjadi alat utama bagi Mas Mono untuk membekali para karyawannya dalam bekerja. Tetapi, ini bukan satu-satunya. Ia juga memiliki sederet alat bantu lainnya untuk menjadikan karyawan terus semangat dalam bekerja. Semua alat itu bekerja secara terintegrasi sehingga hasilnya bisa terlihat dari pertumbuhan bisnis Ayam Bakar Mas Mono yang makin berkibar.

Dengan “mewajibkan” shalat Dhuha bagi karyawannya, tidak kemudian shalat wajibnya menjadi Sunnah. Sebaliknya, kewajiban shalat Dhuha itu malah menjadikan shalat wajib menjadi “super wajib”. Sanksi bagi mereka yang meninggalkan shalat wajib adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, pengalaman menunjukkan, dengan makin semangat untuk shalat Dhuha, para pegawai juga terdongkrak semangatnya dalam menunaikan shalat wajib lima waktu. Termasuk shalat wajib yang juga terlarang untuk ditinggalkan oleh karyawannya adalah Shalat Jum’at.

Selain shalat Dhuha, Mas Mono juga memberi teladan kepada para karyawannya soal sedekah. Sebagian pendapatan dari bisnisnya memang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Ia termasuk salah satu donatur bagi program penghafal al-Qur’an bagi tunanetra. Hal ini menjadi contoh bagi karyawan untuk tidak ragu memberikan sedekah.

Inspirasi yang dapat kita ambil dari kisah Agus Pramono atau Mas Mono ini adalah bahwa shalat Dhuha bisa menggerakkan atau membuat kita semakin terdorong unutk bersedekah atau berbagi kepada orang lain. Jadi, pelaku shalat Dhuha yang benar dapat dipastikan tidak kikir dan tidak pelit untuk berbagi atau bersedekah dengan orang lain.

 

Sumber tulisan : Dhuha Itu Ajib! (Iqro’ al-Firdaus)

Check Also

sholat

Ini Tips Mudah Hilangkan Rasa Malas untuk Sholat

Tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan itu tertulis jelas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *