umar bin abdul aziz

Ingin Anak Hebat? Jadilah Wanita yang Taat!

Inspirasi Other

Blusukan. Pasti tau dong makna kata ini. Beberapa tahun kebelakang kata-kata ini menjadi trending topik gaya kepemimpinan presiden kita. Tapi tahukah kita, kalau sebenarnya blusukan ini sudah ada jauh sebelum negara kita merdeka. Gaya blusukan ini sudah sejak lama diterapkan oleh setiap khalifah yang diajarkan langsung oleh nabi kita Muhammad saw. Salah satunya adalah Umar bin Khattab, khalifah ke 2 umat muslim setelah Rasulullah dan Abu Bakar.

Lalu apa hubungan judul artikel ini dengan blusukan??? (pasti banyak yang tanya begitukan? Hayooo ngaku ;p )

Saya ingin mengisahkan sebuah kisah sejarah kehebatan seorang pemimpin umat muslim beberapa abad yang lalu, dan rangkaian kisah ini berawal dari blusukan!

Bermula dari zamannya Umar bin Khattab di masa kekhalifahannya. Umar adalah seorang pemimpin yang zuhud dan sangat perhatian akan nasib rakyatnya. Tak pernah ia makan makanan enak jika masih banyak rakyatnya yang merasakan lapar. Tak kan berhenti ia berjalan mengelilingi kota sebelum ia memastikan tak ada rakyatnya yang terdzalimi atas kepemimpinannya. Ia rela mengejar dan mencari-cari seekor unta yang terlepas ditengah gurun pasir beratapkan langit dengan mataharinya yang bersinar terik membakar kulit dan anginnya yang berhembus menerbangkan pasir hanya demi sebuah amanah zakat dari seorang rakyatnya.

Tak hanya di siang hari ia berkeliling memeriksa keadaan rakyatnya, malam hari nya pun ia habiskan untuk blusukan ke setiap sudut rumah warganya. Hingga pada suatu malam yang dingin, ketika ia lelah berjalan dengan ditemani tongkat dan seorang khadimatnya, ia bersender di sebuah dinding rumah yang lusuh. Ditengah istrahatnya, tanpa sengaja ia mendengar percakapan dua orang wanita di balik tembok yang ia sandari.

Di tengah percakapan itu, seorang wanita yang terdengar lebih tua meminta putrinya untuk berdiri dan mencampurkan seember air ke dalam susu yang akan mereka jual keesokan harinya. Namun putrinya menolak dan mengingatkan ibunda nya akan peraturan amirul mukminin —Umar bin Khattab— yang melarang pedagang menjual susu oplosan. Sebagaimana pun ibu nya mendesak namun anak tersebut tetap dalam pendiriannya untuk tidak mencampurkan susu dengan air. Dan kata-kata inilah yang membuat Umar tertegun.

“Wahai ibunda, bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa Amirul Mukminin tak mengetahui apa yang kita lakukan malam ini. Benarlah kiranya ia tak mengetahui, tetapi Allah, tuhannya Amirul Mukminin dan Tuhan kita melihat apa yang kita kerjakan. Dan tak ada sedikitpun yang luput dari penglihatannya, meskipun hanya seekor semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di dalam pekatnya malam.”

Baca juga : Pelajaran Dari Surat Al-Kahfi

Umar terpesona dengan kalimat yang keluar dari mulut seorang wanita yang begitu tegas dan lugas dalam nahi munkar. Wanita yang begitu taat dalam taqwanya. Wara’ dalam akhlaknya. Umar pulang membawa sejuta tanya tentang siapa  wanita tersebut.

Dialah Ummu Umarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Anak seorang penjual susu yang sangat menjaga amanah dan akhlaknya. Hingga akhirnya Umar menikahkannya dengan anaknya, Ashim bin Umar bin Khattab yang mana dari pernikahan tersebut lahirlah Laila binti Ashim. Laila dididik di atas kebaikan dan keutamaan sehingga ia pun besar menjadi seorang wanita yang taat dan sholihah. Dari keturunannya lah lahir seorang khalifah Bani Umayyah yang terkenal dengan kewara’an dan kezuhudannya. Ia memerintah dengan cinta yang besar untuk rakyatnya. Ia dididik oleh seorang ibu yang taat dan nenek yang juga taat. Ia dididik dengan cinta, keutamaan ilmu, dan kebaikan sehingga dia pun tumbuh di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan untuk taat kepada-Nya. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz begitu takut jika amanah sebagai pemimpin yang disematkan padanya membawanya pada kekuasaan yang dzalim, maka ia meninggalkan seluruh kesenangannya. Ia kuatkan ibadahnya siang dan malam, dan selalu meminta nasihat dari ulama yang menjadi penasihatnya. Ia audit seluruh orang-orang yang ada di bawah pemerintahannya. Ia keluarkan orang-orang yang hanya memikirkan nafsunya sendiri dan ia pertahankan orang-orang yang selalu menjaga ibadahnya. Seringkali ia keluar sendirian mengelilingi kota tanpa ada yang tahu dikarenakan kekhawatirannya pada rakyatnya. Ia khawatir jika masih ada tangis kelaparan anak-anak dari rumah-rumah warganya. Ia khawatir jika masih ada dari rakyatnya yang tidur dalam keadaan berselimut langit malam dan beralas pelepah kurma, maka ia terus blusukan seperti yang di lakukan buyutnya Umar bin Khattab dahulu.

Pemerintahannya disenangi oleh rakyatnya karena keadilan yang ditegakkannya, pribadinya selalu dirindu dan di hormati padahal tak lama ia memerintah. Hanya berkisar 2 tahun 5 bulan. Namun di masa pemerintahaannya yang singkat itu tak pernah di jumpai adanya orang fakir. Seluruh rakyatnya hidup dalam kemakmuran hingga badan Amil Zakat pada saat itu berlimpahan harta karena sudah tak ada lagi orang-orang yang membutuhkan zakat.

Para ulama berijma’ bahwa masa kekhalifahan Umar adalah masa yang keadilannya melimpah setelah empat khalifah rasyidin yang mendapat petunjuk.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Sesungguhnya pada tiap seratus tahun, Allah mendatangkan untuk manusia orang yang mengajarkan sunnah dan menghilangkan kedustaan atas nama Rasulullah kepada mereka. Pada seratus tahun pertama, kami melihat bahwa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz, sementara pada seratus tahun kedua adalah Imam Asy-Syafi’i”

Begitulah Umar bin Abdul Aziz dikenang. Ia tumbuh dan lahir dari rahim seorang ibu yang taat, yang mana ibunya pun lahir dari seorang wanita yang juga taat. Maka sahabat, jika kita ingin mendapatkan keturunan yang hebat, mulai lah dari diri kita, kuatkan ketaatan kita kepada Allah dan kuatkan cinta kita padaNya.

 

Author : Atika Fitri
President of Rumah Yatim Ihya Ul Ummah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *