Qiyamul Lail

Ajaibnya Sebuah Doa

Inspirasi Other

Seringkali dengan tidak sadar kita merasa kecewa atas apa yang Allah tetapkan untuk kita. Mungkin ketika kita menginginkan gaji yang besar namun ternyata hanya cukup untuk membelanjakan keperluan-keperluan wajib rumah tangga. Mungkin ketika kita mendambakan seorang anak namun ternyata tak jua kunjung mendapatkannya. Atau mungkin ketika kita berharap mendapatkan pekerjaan yang baik setelah rutin bersedekah namun tetap saja masih tak jua ada lamaran yang jebol. Kecewa, sedih dan akhirnya putus asa.

Ada juga keputusasaan yang hadir lebih dulu sebelum harap terbersit dalam hati dikarenakan akal yang menganggap itu terlalu mustahil. Atau mungkin karena orang lain mencemooh dan mengatakan itu adalah hal yang tak mungkin terjadi.

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

 

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az Zumar : 53)

Allah telah mengingatkan kita bahwa RahmatNya begitu luas mencakup seluruh alam semesta. Allah menanti-nanti pinta dalam setiap doa kita.

Seperti yang terkisah dari seorang ibu yang mulia dalam akhlaknya. Ia dikaruniai seorang anak yang buta semenjak usia 2 tahun . Bukanlah hal yang mudah untuk nya membesarkan seorang anak yang buta, apalagi ia mengasuhnya seorang diri setelah suami nya berpulang menghadap Allah. Ialah ibunda Imam Al-Bukhari yang selalu mengulang-ulang pintanya dalam setiap sujud-sujud panjangnya. Ia pintakan kesembuhan bagi kedua mata anandanya. Meskipun hal itu seperti punuk merindukan bulan. Namun ia tak pernah putus berdoa dan berharap.

Baca juga : Ingin Anak Hebat? Jadilah Wanita yang Taat!

Ia kuatkan doa nya dengan ikhtiar. Bukhari kecil ia ajarkan mengenal Rabb nya. Ia pahamkan Bukhari tentang aqidah. Ia ajarkan anandanya untuk ikhlas dan ridho atas ujian yang Allah berikan. Ia titipkan Bukhari kecil belajar Alqur’an pada seorang syekh di sebuah masjid. Dan inilah maha adilnya Allah pada hambanya. Allah memang telah mengambil kedua mata Bukhari, tapi Allah berikan ketajaman hati dan pikiran baginya. Di usianya yang masih belia diantara teman-teman nya, ia mampu menyerap seluruh ilmu yang diajarkan gurunya. Ia mampu menghapal dan memahami apa yang disampaikan gurunya, sama persis hingga ke tanda baca dan makhrajnya padahal ia buta, tak pernah melihat mushaf, tak pernah mengenal bentuk huruf hijaiyah. Semua orang takjub terpesona. Hingga gurunya pun memeluknya erat dan mendoakannya menjadi seorang ahli hadits yang mulia.

Ibunda Bukhari tetap saja berdoa semakin khusyuk dan semakin panjang. Semakin banyak air mata yang ia tumpahkan membasahi sajadahnya. Semakin pula ia gantungkan harapannya pada kekasihnya. Dan Allah pun merasa senang dengan apa yang dilakukan hambanya ini. Di saat ia jatuh tertidur di atas sajadahnya, ia bermimpi melihat Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim di dalam mimpinya berkata “Wahai perempuan, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena banyaknya tangisanmu, atau doa yang kamu lantunkan.” Allah langsung mengabulkan pintanya. Seketika itu juga Bukhari kecil dapat melihat.

Ini sungguh keajaiban yang tercipta berkat doa seorang ibu yang mulia. Dengan akhlaknya ia pintakan selalu penjagaan Allah atas putranya. Kembalinya penglihatan putranya tak pernah mengurangi malam-malam syahdunya bermunajat kepada Allah untuk mengadu dan menguntai harapan bagi kehidupan putranya.

Lihatlah sahabat, atas akhlaknya yang mulia dan berkat doa-doanya lah Allah menjadikan anaknya menjadi seorang ulama yang mulia di masanya. Menjadikan anaknya seseorang yang dicintai dan juga mencintai Allah. Tak terhitung jumlah karyanya dan kontribusi nya dalam agama ini. Dan seluruh ulama sepakat menyematkan gelar Amirul Mukminin fil hadits baginya atas ilmu dan penguasaan haditsnya. Tak tanggung-tanggung, selama 16 tahun ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengumpulkan seluruh hadits dan kemudian memilahnya menjadi hadits shahih dalam kitab Sahih Bukharinya. Seluruh ulama memuji kefaqihan dan ketelitiannya, dan mereka menjadikan karyanya sebagai rujukan dalam mempelajari ilmu hadits.

Imam Muslim pernah bersua dengan nya kemudian mengecup keningnya, dan berkata “Biarkanlah aku mencium kedua kakimu, wahai ustadznya para ustadz, penghulu para muhaddits, dan dokter dalam menganalisa cacat-cacat dalam hadits.”

Imam Ishaq bin Rahuyah (gurunya) berkata, “Seandainya ia (Al Bukhari) hidup di masa Hasan Al Bashri pastilah orang-orang membutuhkannya karena penguasaan dan pemahamannya terhadap hadits.”

Muhammad bin Basysyaar (gurunya) berkata, “Huffaazh (ahli hadits) di dunia ada empat: Abu Zur’ah dari Ray, ad-Daarimi dari Samarkand, Muhammad bin Ismail dari Bukhara dan Muslim dari Naisabur.”

Ialah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi yang terkenal dengan nama Imam Al Bukhari.

 

Author : Atika Fitri
President of Rumah Yatim Ihya Ul Ummah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *