cerdas

SEPERTI APA CANTIKMU?

Ketika kita diperlihatkan sebuah foto bayi yang mungil, putih, bersih, sehat, dengan senyum lebar sehingga gusi ompongnya kelihatan, maka yang muncul adalah ekspresi senang, senyum, gemes, takjub dan sebagainya.

Ketika kita diperlihatkan sebuah foto jeruk lemon, maka ekspresi yang terasa adalah keasaman, air liur langsung keluar, ekspresi yang menampakan rasa asemnya lemon pun terpancar.

Begitulah tubuh merespon aktivitas pikiran kita. Pikiran kita sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga mampu menggambarkan asamnya lemon atau menggemaskannya bayi lucu meskipun hanya dengan sebuah gambar atau selembar foto.

Begitu pun dengan kata CANTIK

Pikiran kita sudah sedemikian terbentuk oleh iklan, baik di media sosial, TV, atau selainnya bahwa CANTIK selalu di identifikasikan dengan kulit putih bersih, tubuh langsing, tinggi semampai, rambut hitam berkilau, wajah mulus tanpa noda. Bagaikan seorang model, artis cantik, miss world dan sebagainya.

Banyak wacana, seminar, dan pelatihan yang mengusung tema “INNER BEAUTY” belum mampu merombak interpretasi tentang CANTIK. CANTIK masih dilihat secara fisik. Kecantikan dari dalam belum ditengok sebagai sebuah kecantikan. Apa buktinya???

  1. Maraknya kosmetik dan produk perawatan tubuh yang menjanjikan hasil wajah dan tubuh menarik. Baik yang aman tersertifikasi sampai yang abal-abal.
  2. Tumbuh kembangnya sarana olah raga, fitness, senam dan selainnya yang menjanjikan tubuh ideal. Dari yang bertarif murah sampai yang mahal.
  3. Menjamurnya salon kecantikan yang kini tak hanya ada di kota namun sampai ke pelosok-pelosok desa. Mulai dari treatment, masker dan creambath sampai ke tarik benang, bleaching, totok, hair ekstention, dan lain lain.
  4. Tutorial kecantikan di youtube adalah laman yang paling banyak viewersnya dan yang menjadi tutornya tidak hanya dewasa, anak anak pun sudah menjadi tutor kecantikan apalagi yang melihatnya.
  5. Bisnis fashion adalah bisnis yang tidak pernah ada matinya.

Baca juga : Ajaibnya Sebuah Doa

Kenapa ini terjadi????

Mengapa masyarakat kita belum menjadikan kecerdasan sebagai kecantikan, keramahan sebagai kecantikan, budi pekerti yang luhur sebagai kecantikan, attitude dan value sebagai kecantikan.

Karena kebiasaan masyarakat kita yang sangat pelit untuk memuji sebuah kecerdasan, menghargai sebuah keramahan, budi pekerti yang luhur sebagai sebuah prestasi yang perlu diapresiasi, sehingga attitude dan value punya nilai di masyarakat, bukan hanya kecantikan fisik yang diapresiasi.

Masyarakat perlu disadarkan bahwa apresiasi terhadap kecerdasan, keramahan, perilaku yang baik, keshalihan akan meningkatkan kepercayaan diri seseorang tanpa mereka harus sibuk dengan kekurangan fisik yang ada.

Mengapresiasi setiap kebaikan sejak usia dini akan membantu setiap pribadi untuk tumbuh menjadi pribadi yang punya kepercayaan diri utuh. Dengan memasukan kalimat-kalimat positif dan apresiatif sejak dini, maka sesungguhnya kita sedang membentuk pola pikir anak, sehingga kelak mereka tidak memiliki pola pikir negatif yang tertanam dalam alam pikiran mereka.

Ramah itu cantik, Cerdas itu cantik, Shalihah itu cantik, Baik Hati itu cantik…….

Mari kita apresiasi cantik mereka.

 

 

Author: Novia Dewi Ibrahim S.Pd.I

President of Muslima Ihya Ul Ummah

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *