Millennial

BEBAS: Salah Cara Cinta dan Kasih Sayang, Investasi Akhirat Hilang

Ansyithoh Ramadhan 2017

Di Indonesia, begitu banyak dan cepat informasi suatu kejadian tersebar luas. Dan dalam zona millennial seperti sekarang ini, media sosial mulai dari instagram, facebook, twitter, youtube hingga path dan whatsapp adalah tempat terbaik untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi yang begitu plural, pun ada pula yang sifatnya majemuk.

Dari informasi yang sifatnya membangun, pun hingga yang sifatnya memprovokasi atau bahkan menyebarkan sesuatu yang tidak pernah ada dan belum pernah terjadi. Melebihkan dan memangkas berita, disampaikan yang berguna untuk kepentingan seorang saja. Namun tentu tidak semuanya begitu, banyak pula yang menyampaikan kebenaran dan sesuai dengan apa yang terjadi Zaman Millennial.

Kekerasan dalam rumah tangga misalnya. Seringkali, kita sebagai seorang yang merasa lebih dewasa ingin memberikan yang terbaik bagi yang lebih muda. Menjadikan apa-apa yang kita miliki adalah untuk mencurahkan kasih sayang dan cinta kepadanya. Hingga lupa, bahwa kasih sayang dan rasa cinta tidak harus melulu dan dalam bentuk wujud yang nyata.

Tentu saja, pendidikan adalah wujud terbaik dari cinta dan kasih sayang. Dalam artian, bahwa cara kita menyampaikan hikmah pada anak atau adik kita tidak perlu melulu dengan teori. Seringkali membutuhkan contoh dan teladan. Bohong dan jadilah kita seorang pendusta sejati jika melarang seseorang untuk mencuri, padahal kita memberikan teladan sebagai pencuri. Sempurna itu mustahil, namun belajar itu keniscayaan pada zaman Millennial saat ini.

Seperti yang telah kita saksikan bersama dizaman Millennial, baik di instagram maupun youtube atau yang lainnya bahwa sekarang ini banyak sekali tragedi-tragedi miris yang memilukan hati. Bagaimana tidak, melihat anak remaja yang dengan berani membentak ibunya karena hanya hal sepele, menghardik Sang Ibu menuntut pintanya untuk segera dipenuhi, pun sampai ditambahkan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang kotor, kasar dan menyayat hati.

baca juga: Bertarung Dengan Semua Godaan

Jika direnungkan, dapatkah kita simpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar dalam hal ini? Tentunya akan banyak sekali factor yang mempengaruhi di dalamnya. Sebagai kaum terpelajar, kita dituntut untuk dapat memandang dan menilai setiap kejadian yang ada dengan seobjektif mungkin.

Dan dengan kondisi yang millennial ini, selain dituntut untuk objektif cara pandangnya kita juga diharapkan mampu memyesuaikan gaya mendidik adik-adik dan anak-anak kita agar semuanya dapat terselaraskan dengan baik, terkondisikan dengan semestinya dan kita dapat memanaj pembawaan diri dalam mendidik. Salah mendidik berarti gagal menanam pintu surge yang ke sekian, bisa jadi malah menanam pintu neraka untuk diri sendiri di dalam Millennial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *