Palestina

Kehidupan Rakyat Palestina Yang Semakin Memprihatinkan

Terbayang di awal embargo kaum Yahudi sejak 14 Mei 1948 terhadap Rakyat Palestina. Letupan demi letupan senjata dan timah panas runcing menghunjam tubuh tak berdosa rakyat Palestina. Kala itu rakyat Palestina tak melakukan perlawanan sedikitpun kecuali hanya protes tanpa senjata dan berharap ada penegakan hukum runcing tak memihak.

Namun, apalah daya semuanya sudah tak seadil dulu ketika masih berada di bawah naungan sistem pemerintahan Islam. Satu demi satu nyawa melayang baik anak-anak, orang tua, laki-laki maupun perempuan, dimangsa layaknya seperti hewan buruan yang dikoyak-koyak tanpa belas kasih.

Hanya tangis dan jeritan yang terdengar menyelimuti kehidupan. Kedzaliman, kejahatan, kemunafikan dan tindakan tak bernurani di pertontonkan secara nyata. Anak-anak tak berdosa dibantai dengan sadis, wanita-wanita diperkosa dan di bunuh secara massal. Seluruh mata tertuju padanya lewat pemberitaan yang begitu masif. Namun, seolah dunia membuta, telinga menjadi tuli dan mulut membisu dalam persekongkolan iblis dalam wujud manusia.

Baca Juga : Yatim, Nasi Padang, Dan Jum’at Berkah

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) digadang-gadang sebagai penawar bagi seluruh belenggu kemanusiaan di setiap negeri-negeri penjuru dunia. Nyatanya, bukan menjadi penawar tapi bagai racun sianida mematikan. Aksi bengis terus menggema memilih sikap kerap kali dikekang, berteriak dan melawan kekejian Israel terhadap Palestina sebagai wujud persaudaraan pun dibungkam.

Pembantaian dan ketidakadilan kembali memuncak saat peresmian kedutaan Besar Amerika Serikat. Amerika Serikat Secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kejadian ini menuai kecaman dunia karena dianggap menghancurkan upaya perdamaian Israel-Palestina. Seperti biasa, para pemimpin dunia utamanya pemimpin Muslim berteriak memberi sikap kecaman tanpa adanya tindakan berarti.

Peresmian tersebut membuat kemarahan warga Palestina karena dilihat sebagai dukungan Amerika Serikat terhadap Penguasaan Israel atas seluruh kota Yerusalem, yang bagian Timurnya terencana akan menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan. Maka wajar warga Palestina marah dan melakukan perlawananan toh sarangnya juga terus terusik sejak puluhan tahun lamanya.

Baca Juga : Nikmat Tersembunyi Dari Menghafal Al-Quran

Setelah jatuhnya sistem pemerintahan Islam maka terjadilah malapetaka dan Imperialisme Barat menyerang di seluruh dunia Islam. Sebut saja Palestina kini masih dijajah Israel, Suriah mengalami kekejian rezim Basyar Asad, Rohingnya di Myanmar, Ghouta dibombardir pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya dan negeri muslim terbantai lainnya.

Baca Juga : Sedekah Membawa Berkah

Namun, Indonesia sebagai negeri muslim terbesar belum berperan signifikan menyelesaikan konflik yang menimpa saudaranya. Alih-alih menjadi pembela kepentingan umat Islam, tetapi negeri ini malah sibuk dengan perpolitikan dalam negerinya yang semakin carut marut tak karuan.

Orientasinya pun tak terlepas dari unsur kepentingan, perpolitikan rawan konflik, pragmatis mengepung harta negara, koruptor berseliweran di mana-mana dan kehidupan jauh dari syariat Islam. Apalagi pesta Demokrasi sudah di depan mata (maaf saya sedang sibuk, jangan ganggu urusan saya. Baca: dengan intonasi sarkastik).

Seperti itulah ironi keadilan hari ini di pusaran umat Islam. Nilai kemanusiaan, hak hidup dan perlawanan tak dimiliki oleh rakyat Palestina secara resmi oleh mata dunia.

Kemana kalian di saat mereka membutuhkan kita? tega kah kalian melihat saudara kita tersiksa?  bagikan postingan ini jangan lupa terus memberikan dukunganya dengan menshare

 

Jangan Lupa Kunjungi Muslima Ihya Ul Ummah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *