Simpul Terkuat itu Bernama Tauhid

Karena jika aqidah goyang, meragukan atau bahkan rusak, maka rusak pula keislaman seseorang yang menjadikannya  keluar dari islam.

Aqidah secara bahasa diambil dari kata dasar “al-‘aqdu”, yaitu ikatan. Secara istilah syar’I, aqidah aalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Aqidah, terlebih terlebih permasalahan tauhid merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. “Dakwah Nabi di Mekah 13 tahun hanya terfokus pada penanaman aqidah, baru pada tahun ke 13 kenabian ada perintah shalat. Ini menunjukkan bahwa permasalahan aqidah adalah sangat penting dan mendasar”, papar Syeikh Ali Jaber. “Jika tauhidnya benar, maka baik pula islamnya dan kalau tauhidnya rusak, maka sia-sialah amalnya”, imbihnya.

Aqidah berporos pada keimanan kita kepada Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, serta qada’ dan qadar. “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya (Mereka mengatakan : “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat,” Mereka berdo’a: “Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”, (QS. Al-Baqarah : 285))

Aqidah disimpulkan dalam syahadatain (dua kalimat syahadat) yakni Ash haadu allaa ilaaha illallaah wa asyhhadu anna Muhammadan Rasuulullaah. “Kalimat inilah yang memberikan [engaruh kepada umat muslim tentang bagaimana harus mengimani Sang Khaliq, kehidupan setelahnya, dunia dan akhirat” paparnya.

 

Baca Juga : Kisah Pedagang Kecil Dan Niat Baiknya

 

Fungsi Aqidah

Seorang muslim yang kuat aqidah dan tauhidnya, akan menjadi muslim yang taat, saleh secara social terhadap masyarakat, teladan umat, bermanfaat bagi manusia lain dan menjauhui perbuatan maksiat. “Aqidah dan tauhid yang terpatri kuat menjadi motivator utama untuk senantiasa menghiasi diri dengan berbagai amal kebajikan dengan berlomba-lomba dalam meningkatkan amal saleh dan menjadikan dunia sebagai lading amal”, tukas pria yang sudah menjadi warga Negara Indonesia ini. Dia tidak akan terpengaruh perubahan zaman modern yang tanpa disadari mengikis keyakinan aqidah kita secara perlahan-lahan.

Aqidah yang lurus juga akan menambah kecintaan kita pada Allah SWT dan takut mendzalimi Allah, yang mana akhirnya akan menambah tingkat khusyuk kita dalam beribadah. “Dengan menguatkan aqidah maka kita dapat mencintai Allah secara benar dan takut pada-Nya secara benar dan takut pada-Nya secara benar pula”, jelas Syeikh Ali Jaber lebih lanjut.

Baca Juga : Penyesalan Datangnya Terakhir

Aqidah juga mampu menguatkan ukhuwah. “Ketika Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, hal utama yang beliau lakukan adalah membangun masjid dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Hal ini dianggap penting agar mereka saling bantu membantu dalam menghadapi berbagai cobaan serta dapat membangun kota Madinah menjadi lebih baik lagi”, terangnya.

Syeikh Ali Jaber juga menambahkan, persaudaraan dan persatuan di kalangan umat islam sendiri terkadang masih sulit untuk diwujudkan, perbedaan aliran dan pemahaman antara satu mazhab dengan mazhab lain terkadang menimbulkan perselisihan dan pertikaian yang tak kunjung usai. “Padahal, Tuhan kita satu, kitab suci, Nabi dan kiblat sama, namun masih banyak di antara kita yang merasa lebih baik dan menyalahkan yang lain”, ujarnya heran.

 

Narasumber : Syeikh Ali Jaber

Diambil dari :Majalah al falah Malang, Edisi Februari 2018

 

Yuk Wakaf Pendidikan Quran

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *