Terhubung ke Langit

Inspirasi

Terhubung ke Langit

Penulis Ust. Salim A Fillah

Buku: Dalam Dekapan Dakwah

 

berdirimu di waktu malam, sujudmu yang dalam

mengokohkan hatimu melebihi gunung membiru

malu kau terima beban untuk mencintai semesta;

membagi senyum ketika kau terluka,

memberi minum ketika kau dahaga,

menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka

 

SEHARUSNYA dia beroleh istirahat di malam hari.

Siang demi siang terasa panjang, melelahkan dan me-Nyesakkan dada.

Ke sana kemari dia susuri Makkah dari ujung lain ke ujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku, untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.

Dia Kadang terlihat di puncak Shafa, membacakan ayat-ayat yang dibalas caci maki dan hinaan menjijikkan dari pamannya sendiri. Dia kadang harus pergi, meninggalkan satu kaum dengan dilempari baru dan kotoran sambil diteriaki gila, dukun, penyihir penyair ingusan.

Dia kadang sujud di depan Ka’bah, lalu seseorang akan menuangkan  setimba isi perut unta ke kepalanya, atau menjeratkan selendang ke leher di saat ruku’nya. Dia kadang harus menangis dan menggumamkan ketakberdayaan melihat sahabat-sahabatnya yang lemah dan terbudak disiksa di depan matanya. Kejam dan keji.

 

Baca juga: Keajaiban Sedekah

 

Dia sangat lelah. Jiwa maupun raga. Dia sangat payah. Lahir maupun batin. Tenaganya terkuras. Luar mapun dalam. Seharusnya dia beroleh istirahat di malam hari, meski gulana tetap menghantuinya. Tetapi saat Khadijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justru memaksanya terjaga.

 

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya, atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Separuhnya, atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4).

 

Untuk apa?

 

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 5)

 

Seberat apa?

 

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 21).

Itu kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya harus lebih kokoh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Karena itu dia harus bangun di waktu untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.

 

Nantikan part 2 nya yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *