Ust Salim A Fillah

Terhubung ke Langit – Part 2

Inspirasi
Dalam Dekapan Ukhuwah – Ust Salim A Fillah
Part 2
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia sholat. 
“Sholat,” kata Sayyid Quthb dalam Zhilal, “Adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus
dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan
yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah.
Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi
yang kecil menuju realita alam semesta.
Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari bolong nan terik.
Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dan sholat.
Sholat itu kewajiban baginya. Sholat itu menjaganya dari kemungkaran dan kekejian. Dia ruku’.
Maha Agunglah Alloh dan dia memuji Ilahi. Lalu Alloh mendengarkan orang yang memuji-Nya,
dan menjawab derap-derap permohonannya yang menggelora. Dia sujud.
Maha tinggilah Alloh. Dan dia merasakan betapa dekatnya,
betapa mesranya, betapa asyiknya bicara pada
Robbnya dalam hening, mengadu,
berkeluh, berkesah tentang segalanya.
Tentang beratnya tugas, tentang lemahnya daya dan kekuatannya.
Lalu dia memohon kekuatan agar mampu mengemban amanah itu. “Ya Robbi,” lirihnya,
“Kepada-Mu kuadukan lemahnya dayaku,kurangnya siasatku, dan kehinaanku
di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang,
Engkaulah Robb orang-orang yang lemah. Engkaulah Robbku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu
yang menyinari segala kegelapan
dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik,
agar Engkau tak menurunkan murka-Mu kepadaku.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.”
Maka Alloh menjawabnya, mencurahkan rohmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi.
“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
(Qs. Ali ‘Imron [3]: 159)
Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu mewarisi keteguhan SangNabi.
Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu dicurahi rohmat-Nya
hingga mampu berlemah lembut pada sesama.
Dalam dekapan ukhuwah, kita berharap tak ada yang lari dari sisi
karena kekasaran sikap dan kekerasan hati ini.
Dalam dekapan ukhuwah, kita berambisi dipuji Alloh seperti Sang Nabi,
“Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”
Maka dalam dekapan ukhuwah kita pun bangkit,
menegakkan sholat, dan mengundang cinta-Nya
dengan segenap ketaatan yang terjangkau oleh kemampuan kita.
Orang-orang yang terhubung ke langit,
adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *