dekapan ukhuwah

Segalanya Adalah Cermin – Dalam Dekapan Ukhuwah | Ust. Salim A Fillah

Inspirasi

Segalanya
Adalah Cermin
semua orang yang ada dalam hidup kita
masing-masingnya, bahkan yang paling menyakiti kita
diminta untuk ada di sana
agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka
AMPARAN di wajah Mu’awiyah itu diberikan oleh ‘Uqoil ibn
Abi Tholib.
Inilah yang dikisahkan Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’. Adalah ‘Uqoil yang suatu hari didesak kebutuhan, mendatangi
saudara kandungnya, ‘Ali ibn Abi Tholib. “Aku ini,” kata ‘Uqoil,
“Adalah seorang yang memerlukan bantuan dan engkau telah
mengetahui kefakiranku.”
‘Ali mengangguk. Ingin sekali dia membantu. Sayang, tak ada
apapun di tangannya, tidak juga di rumahnya. “Bersabarlah,”
ujarnya, “Hingga gajiku dibayarkan dari Baitul Maal bersama dengan
kaum Muslimin lainnya. Saat itulah akan aku berikan padamu apa
yang kau minta.”
‘Uqoil tak sabar. Dia terus mendesak.
“Baik,” kata ‘Ali sambil memanggil salah seorang pembantu
dekatnya. “Bawalah ‘Uqoil ini,” kata ‘Ali padanya, “Ke jajaran kios
yang ada di pasar. Suruh dia mengambil apapun yang ada di sana!”
“Subhanalloh!” kata ‘Uqoil, “Apakah engkau menginginkan
aku menjadi pencuri?”

Baca juga: Terhubung Ke Langit Part 3

“Apa bedanya itu dengan engkau yang mendesakku untuk
mengambil harta kaum Muslimin lalu memberikannya kepadamu?”
“Kalau begitu, aku akan menemui Mu’awiyah!”
“Terserah engkau!”
Saat itu, ketegangan antara Mu’awiyah di Syam dan ‘Ali di Iraq
terkait kepemimpinan kaum Muslimin sedang tinggi-tingginya.
Setiap hal bisa menjadi ladang perebutan pengaruh di antara kedua
belah pihak. Tak mendapat apa yang dia mau dari ‘Ali, ‘Uqoil pun
menemui Mu’awiyah dan mengajukan permintaan harta kepadanya.
Tanpa pikir panjang, Mu’awiyah memberikan padanya seratus ribu
dirham.
“Naiklah ke mimbar,” kata Mu’awiyah pada ‘Uqoil setelah itu,
“Dan sampaikanlah kepada khalayak seperti apa tanggapan ‘Ali atas
pintamu dan seperti apa perlakuanku padamu!”
Maka ‘Uqoil pun naik ke mimbar. Dia memuji Alloh, dan
bersholawat atas Rosululloh. “Amma ba’du,” katanya, “Wahai
hadirin yang mulia. Akan aku kabarkan kepada kalian bahwa aku
menginginkan ‘Ali mengkhianati agama dengan memenuhi hajatku.
Tetapi dia lebih memilih agamanya dibandingkan aku, saudara
kandungnya. Adapun Mu’awiyah, kuminta dia melakukan hal yang
sama, dan dia telah memilih mengutamakanku, yakni saudara dari
saingannya, daripada agamanya!”
Mu’awiyah terbelalak. Kata-kata ‘Uqoil itu sungguh bukan
yang diharapkannya. Tapi seperti biasa, dengan cepat dia menguasai
diri. Dan tersenyum.
Hari ini sebuah tempelak nyaris memelantingkan harga dirinya.
Rasanya seperti ditusuk sembilu tepat di ulu hati. Tapi dia tahu, ‘Ali
memang orang yang mulia. Dan hari ini ‘Uqoil telah membawakan
‘Ali, sosok terpuji itu, untuk menjadi cermin yang bening baginya.
Dia terlalu dibakar hasrat untuk mengalahkan ‘Ali. Sedang ‘Ali telah
mengalahkan dirinya dengan kejernihan dan kekuatan menjaga
amanah. Mu’awiyah merasa retak dan buram.

Next part 2

 

Baca Juga Menuju Kebaikan Yang Sempurna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *