Segalanya Adalah Cermin Part 2 - Dalam Dekapan Ukhuwah

Segalanya Adalah Cermin Part 2 – Dalam Dekapan Ukhuwah | Ust. Salim A Fillah

Inspirasi
Tak sedikit pun ada kebencian pribadi darinya pada menantu
Rosululloh itu. Mereka sama-sama penulis wahyu. Mereka sama- sama menjadi saksi
peristiwa agung bersama Sang Rosul di perempat
terakhir tugas kenabian beliau. Jika kini mereka berhadapan,
mungkin keadaannya justru mencerminkan apa yang pernah
dikatakan ‘Ali saat menggambarkan kejayaannya dalam berbagai
perang bersama Sang Nabi. Mu’awiyah ingat kata-kata itu, “Aku
adalah laki-laki,” kata ‘Ali, “Yang ditakdirkan Alloh berdiri di satu
titik untuk mengayunkan pedang. Dan tertakdir pula, di hadapanku
berdiri seorang laki-laki yang hendak menjulurkan leher.”
Pertentangan sekaligus persaudaraan, pertikaian sekaligus
hubungan antara kakak ipar dan menantu Rosululloh ini memang
pelik.
Para sejarawan yang ‘alim dan jernih hati hampir mufakat
bahwa kebenaran lebih dekat berada di pihak ‘Ali, Rodhiyallohu
‘Anhu. Mu’awiyah dan kelompoknya adalah kelompok pembang- kang yang telah
diisyaratkan oleh Sang Nabi. Hanya saja, itu tidak
mengeluarkan mereka dari keislaman dan jama’ah kaum Muslimin.
Dan kita tetap belajar banyak dari seorang Mu’awiyah.
Seperti hari yang dikisahkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul
Auliya itu. Majelis Mu’awiyah sedang ramai dihadiri orang-orang
yang telah berdamai berkat kelapangan hati al-Hasan ibn ‘Ali. ‘Ali
ibn Abi Tholib sendiri telah wafat, ditikam oleh seorang Khowarij
yang dendam dan zholim, ‘Abdurrohman ibn Muljam. Di majelis
Mu’awiyah hari itu, hadir sosok istimewa. Orang itu, Dhiror ibn
Dhomroh al-Kinani, adalah lelaki yang selalu berada di dekat ‘Ali ibn
Abi Tholib ketika ‘Ali dan Mu’awiyah berseteru di Shiffin.
Dan hari ini Mu’awiyah sekali lagi hendak bercermin.
“Wahai Dhiror,” ucap Mu’awiyah, “Sifatkanlah padaku tentang
‘Ali.”
“Apakah engkau akan memaafkanku nanti, hai Amirul Muk- minin, jika ada hal yang tak berkenan di hatimu?”
“Baiklah, aku tidak akan marah kepadamu.”
Maka Dhiror bangkit dari duduknya dan berkata, “Kalau sudah
semestinya aku sifatkan, maka ‘Ali itu―demi Alloh―adalah jauh
pandangannya dan teguh cita-citanya. Kata-katanya pemutus,
hukumannya adil, ilmu terpancar dari sekitarnya, dan hikmat terus
berbicara dari liku-likunya.”
“Dia,” lanjut Dhiror sambil setengah menerawang, “Senantiasa
membelakangi dunia dan kemewahannya, selalu menyambut
kedatangan malam dan kegelapan. Dia, demi Alloh, adalah kaya
dalam ibaratnya, jauh pemikirannya, mengangkat kedua tangan
seraya berkata-kata memberi nasehat kepada dirinya. Pakaian yang
kasar itulah yang selalu dipakainya, dan makanan yang rendah
itulah yang senantiasa diasupnya.”
Dhiror menghela nafas.
“’Ali tidaklah berbeda dengan salah seorang di antara kami. Dia
akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dan selalu
mengulurkan bantuan bila kami menadah tangan. Meskipun dia
terlalu akrab dengan kami, dan selalu duduk bersama-sama kami,
namun tidak pernah berkata-kata dengan kami melainkan dengan
penuh kehebatan. Jika dia tersenyum, maka senyumannya seumpa- ma mutiara yang berkilauan.
Dia selalu menghormati ahli agama,
suka mendampingkan diri kepada orang miskin. Orang yang kuat
tidak berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang
lemah tidak putus asa dari keadilannya.”
“Aku bersaksi,” lanjut Dhiror dengan telunjuk mengacung dan
mata berkilat, “Bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang
sungguh mengharukan. Ketika itu, malam telah menabiri alam
dengan kegelapannya, dan bintang-bintang menyiramkan sekitaran
dengan cahayanya. Adapun dia masih tetap duduk di mihrob tempat
sholatnya, tangannya terus menggenggam janggutnya, dia kelihatan
sangat gelisah seperti gelisahnya orang yang menanggung perkara
yang besar. Dan dia menangis, seperti ratapan seorang yang patah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *